City Tour

Lawang Sewu adalah nama sebuah gedung kuno di kota Semarang. Dibangun pada tahun 1904 oleh Belanda, Lawang Sewu dulunya berfungsi sebagai kantor perusahaan kereta api Belanda. Nama Lawang Sewu yang berarti seribu pintu berasal dari bentuk bangunannya yang mempunyai banyak pintu dan jendela. Yang menarik dari Lawang Sewu adalah suasana mistisnya yang dilengkapi dengan arsitektur megah khas jaman dahulu. Gedung Lawang Sewu juga mempunyai lantai bawah tanah yang dulunya difungsikan sebagai penjara.

Masjid Agung Jawa Tengah yang berlokasi di kota Semarang, tepatnya di Jalan Gajah Raya. Gajah Raya adalah salah satu masjid termegah di Indonesia yang banyak dikunjungi bukan hanya untuk beribadah saja, melainkan untuk kegiatan wisata juga. Diresmikan pada tahun 2006, Masjid Agung Jawa Tengah yang memiliki luas lebih dari 7,500 meter persegi ini mampu menampung sekitar 16,000 jamaah. Selain bangunan utama masjid, di Masjid Agung Jawa Tengah juga terdapat berbagai fasilitas lain seperti ruang akad nikah, auditorium, perpustakaan, penginapan, museum budaya Islam, kafe, toko cenderamata, kereta kelinci, tempat bermain anak-anak, dan lain-lain.

Pagoda Buddhagaya Watugong adalah pagoda dengan ketinggian lebih dari 45 meter dan merupakan pagoda tertinggi di Indonesia. Pagoda Buddhagaya Watugong yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan merupakan tempat ibadah pemeluk agama Budha sekaligus tempat wisata di Semarang yang menarik untuk dikunjungi karena keunikan dan keindahan bentuk bangunannya.

Kelenteng Sam Po Kong merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Tempat ini biasa disebut Gedung Batu, karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.

Kota Lama Semarang adalah suatu kawasan di Semarang yang menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20 . Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijhoek. Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : Heeren Straat. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut De Zuider Por.

Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan “Little Netherland”. Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang

Wayang Orang Ngesti Pandhawa menggelar pentas sejak era tahun 1940- an, Grup Wayang Orang Ngesti Pandowo telah menjadi ikon budaya Kota Semarang

Dirintis oleh seniman kawakan semacam Sastro Sabdho, Narto Sabdho, Darso Sabdho, Kusni, dan Sastro Soedirjo, ikon itu kini memasuki generasi ketiga.

Ngesti Pandowo sejatinya grup wayang orang asal Madiun. Tahun 1940, Ngesti Pandowo meniti puncak keemasannya berkat keuletan, ketelatenan, ketelitian, seniman dan seniwatinya. Setelah mengalami masa sulit pada tahun 1945, mulai tahun 1949 sampai 1966 mereka mulai menata kegiatan. Puncaknya,ketika mereka beroleh kesempatan pentas di Istana Negara Jakarta yang dihadiri oleh Presiden RI Pertama Bung Karno.

Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960,  Paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo memeroleh piagam dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan berupa piagam “Wijaya Kusuma” diberikan pada tanggal 17 Agustus 1962, berkat upaya dan kiprah para seniman yang telah menghasilkan karya seni budaya yang ada di Kotamadya Semarang.
Diperkuat 85 anggota ngesti pandhawa mempunyai jadwal tetap manggung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) setiap akhir pekan.

Mangrove Tracking. Jalur dengan panjang 135 meter yang terbuat dari bambu menyusuri mangrove tersebut cukup menarik perhatian pengunjung. Berjalan kaki menyusuri sejuknya hutan bakau, di sisi miniatur laut Jawa tersebut, sambil melihat perahu daun yang sering lewat menjadi daya tariknya tersendiri.